April 1, 2008

Menulis Apa Adanya..

Seperti yang aku tuliskan pada postingan pertamaku, blog ini nantinya akan kujadikan sarana menuliskan apa yang sedang ingin kutulis. Tapi apa yang terjadi?? Penerapannya tidaklah semudah yang aku bayangkan :|
Terlalu banyak hal yang ingin kutulis, namun hanya sedikit yang berhasil kutuliskan.
Ketakutan telah membelengguku. Ketakutan akan penilaian orang atas apa yang aku tuliskan ternyata jauh melebihi keinginan untuk menulis itu sendiri.
Saat menulis artikel ini, sedang coba aku cari beberapa referensi untuk dapat meningkatkan keberanian itu. Sekian lama mencari, tak kunjung kutemukan apa yang aku harapkan.
Kemudian coba kucari pembenaran dalam diriku sendiri untuk menghancurkan belenggu ketakutan itu.

Apa yang kamu takutkan??
Sedikit bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut. Apa sebenarnya yang kamu takutkan?? Sepertinya, rasa takut akan berbagai penilaian yang nantinya akan diberikan orang lain telah benar-benar membelenggu keinginan untuk menulis itu.

Mengapa harus takut??
Jangan pernah takut akan penilaian orang lain. Karena tugasmu disini adalah menulis apa adanya sebagai dirimu & dengan caramu. Jangan terlalu pusing untuk coba memikirkan bagaimana penilaian orang lain terhadap tulisanmu. Padahal belum tentu juga orang lain mau ambil pusing untuk menilai apa yang kamu tuliskan :)

Semoga dengan menulis tulisan ini, dapat meningkatkan rasa percaya diriku untuk lebih produktif lagi didalam menulis. Amen…

Good luck nik, semoga berhasil, Luv U All ;)

March 24, 2008

Tentang Datu

Pagi itu, pukul 05.00 jam beker dikamar itu berbunyi dengan kencang. Suaranya yang nyaring tak juga membangunkan Datu dari tidurnya. Pukul 06.02 alarm handphone yang diletakkan disebelah telinganya giliran mengeluarkan suara. Hampir semenit handphone itu bersuara, sebelum akhirnya dimatikan oleh Datu yang baru terbangun dari tidurnya. Dengan mata masih terpejam, coba Ia raih selimut tebal yang semalam menyelimuti tubuhnya. Coba Ia raba sekitarnya, namun selimut itu tak kunjung Ia raih. Perlahan coba Ia buka matanya yang masih terasa berat, untuk segera menemukan selimut itu. Betapa terkejutnya Datu saat melihat disekitar. Selimut itu sudah tertata rapi disudut kamar berdindingkan kayu itu. Beberapa teman yang semalam tidur disebelahnya juga sudah tidak tampak lagi, begitu juga dengan barang-barang bawaan mereka. Yang tersisa hanya sebuah carrier biru tua dan sebuah bandana biru yang masih terlipat rapi diatasnya.

Tanpa babibu, Datu langsung meraih pintu dan melihat keluar untuk coba memastikan kalau teman-temannya sedang menikmati pagi nan indah di kaki gunung itu. Tapi apa yang Ia dapati? Tak seorangpun ditemuinya ditengah pagi dan hawa pegunungan yang menentramkan itu. Datu memejamkan mata sejenak, mencoba menikmati segarnya pagi dan kicauan burung yang sedang hinggap dipohon cemara nan tinggi itu. Teringat kembali akan pencarian teman-temannya, Datu kembali mencoba menyusur sekitar, beberapa saat coba menyusur, tak kunjung Ia temukan tanda-tanda keberadaan teman-temannya. Datu menghela nafas sejenak sambil kembali menikmati segarnya pagi yang selalu Ia kagumi.

Perlahan Ia melangkahkan kaki kembali ke dalam kamar itu. Ia tidak merasa bingung lagi, sesaat menikmati segarnya pagi dikaki gunung akan selalu menentramkan hatinya. Ia pun tidak tergesa untuk coba menyusul teman-temannya yang mungkin saja sudah sampai dipuncak gunung itu. Perlahan Ia siapkan perbekalan, sambil mengawang-awang, terlintas dipikirannya,

“Apa yang sebenarnya sedang Aku alami? Mereka yang kuanggap teman itu ternyata sudah tidak peduli lagi padaku. Atau mungkin mereka sudah lelah untuk coba membangunkanku, namun aku tak kunjung terbangun?”

Sambil mengikat bandana biru dikepalanya, Ia coba menebak,

“Tidak, mereka masih memperhatikanku, buktinya selimut itu sudah terlipat rapi di sudut kamar itu. Mereka sudah coba membangunkanku, namun sepertinya mereka masih canggung untuk berani membangunkanku dengan cara yang lebih keras.” pikirnya sambil merapikan helai rambutnya yang sudah terikat bandana.

Datu keluar dari kamar itu. Dengan carrier dan bandana biru terikat dikepala Ia akan memulai pendakian itu. Coba Ia raih puncak gunung itu dengan sorotan matanya, rasa bimbang sempat menghampirinya. Ini adalah kali pertamanya mendaki gunung itu, ditambah lagi pendakian kali ini akan dilaluinya seorang diri. Namun hembusan segar hawa pegunungan kembali menentramkan hatinya. Sambil berjalan, dengan sedikit bergumam Ia berkata,
“Akan kugapai puncak gunung itu, walau seorang diri dan tanpa pengetahuan akan jalur perjalanan, akan kujejakkan kakiku dipuncakMu. Bukan karena Aku terpaksa ataupun harus menggapaiMu, tapi karena Aku ingin dan yakin bisa menggapaiMu.”

Datupun memulai perjalanannya, dengan penuh senyum dan siul coba Ia wujudkan angannya menjadi nyata.

March 20, 2008

Walau Perlahan, Ku Kan Terus Melangkah…

Perlahan, kucoba keluar dari dunia lama-ku, coba kutapaki dunia baru itu. Walau tertatih, namun asa itu masih ada. Kan terus melangkah bersama asa itu.

Walau Perlahan, Ku Kan Terus Melangkah

March 18, 2008

Esok akan lebih baik..

Belum banyak hal yang bisa kutuliskan untuk kali ini,

Malam semakin larut, mata terasa memberat, namun rasa kantuk tak kunjung datang.

Ide belum tergali, layaknya sumur yang baru mulai digali untuk pertama kali, ide masih terlihat dangkal, layaknya tanah yang masih kering, belum tampak genangan air yang muncul dari permukaan tanah yang sedang digali.

Akan terus kugali sumur itu, sampai saatnya genangan air itu akan tiba dan bisa menjadi sumber kehidupan bagiku. Takkan pernah lupa kubagi sumber air itu dengan penuh suka cita untuk mereka yang memerlukan.

Share your knowledge. It’s a way to achieve immortality (Dalai Lama)

October 22, 2006

Selamat Datang

Sebuah catatan kecil tempatku menuliskan apa yang sedang ingin kutulis,

Sebuah catatan kecil tempatku berbagi apa yang ingin kubagi,

Sebuah catatan kecil …