Pagi itu, pukul 05.00 jam beker dikamar itu berbunyi dengan kencang. Suaranya yang nyaring tak juga membangunkan Datu dari tidurnya. Pukul 06.02 alarm handphone yang diletakkan disebelah telinganya giliran mengeluarkan suara. Hampir semenit handphone itu bersuara, sebelum akhirnya dimatikan oleh Datu yang baru terbangun dari tidurnya. Dengan mata masih terpejam, coba Ia raih selimut tebal yang semalam menyelimuti tubuhnya. Coba Ia raba sekitarnya, namun selimut itu tak kunjung Ia raih. Perlahan coba Ia buka matanya yang masih terasa berat, untuk segera menemukan selimut itu. Betapa terkejutnya Datu saat melihat disekitar. Selimut itu sudah tertata rapi disudut kamar berdindingkan kayu itu. Beberapa teman yang semalam tidur disebelahnya juga sudah tidak tampak lagi, begitu juga dengan barang-barang bawaan mereka. Yang tersisa hanya sebuah carrier biru tua dan sebuah bandana biru yang masih terlipat rapi diatasnya.
Tanpa babibu, Datu langsung meraih pintu dan melihat keluar untuk coba memastikan kalau teman-temannya sedang menikmati pagi nan indah di kaki gunung itu. Tapi apa yang Ia dapati? Tak seorangpun ditemuinya ditengah pagi dan hawa pegunungan yang menentramkan itu. Datu memejamkan mata sejenak, mencoba menikmati segarnya pagi dan kicauan burung yang sedang hinggap dipohon cemara nan tinggi itu. Teringat kembali akan pencarian teman-temannya, Datu kembali mencoba menyusur sekitar, beberapa saat coba menyusur, tak kunjung Ia temukan tanda-tanda keberadaan teman-temannya. Datu menghela nafas sejenak sambil kembali menikmati segarnya pagi yang selalu Ia kagumi.
Perlahan Ia melangkahkan kaki kembali ke dalam kamar itu. Ia tidak merasa bingung lagi, sesaat menikmati segarnya pagi dikaki gunung akan selalu menentramkan hatinya. Ia pun tidak tergesa untuk coba menyusul teman-temannya yang mungkin saja sudah sampai dipuncak gunung itu. Perlahan Ia siapkan perbekalan, sambil mengawang-awang, terlintas dipikirannya,
“Apa yang sebenarnya sedang Aku alami? Mereka yang kuanggap teman itu ternyata sudah tidak peduli lagi padaku. Atau mungkin mereka sudah lelah untuk coba membangunkanku, namun aku tak kunjung terbangun?”
Sambil mengikat bandana biru dikepalanya, Ia coba menebak,
“Tidak, mereka masih memperhatikanku, buktinya selimut itu sudah terlipat rapi di sudut kamar itu. Mereka sudah coba membangunkanku, namun sepertinya mereka masih canggung untuk berani membangunkanku dengan cara yang lebih keras.” pikirnya sambil merapikan helai rambutnya yang sudah terikat bandana.
Datu keluar dari kamar itu. Dengan carrier dan bandana biru terikat dikepala Ia akan memulai pendakian itu. Coba Ia raih puncak gunung itu dengan sorotan matanya, rasa bimbang sempat menghampirinya. Ini adalah kali pertamanya mendaki gunung itu, ditambah lagi pendakian kali ini akan dilaluinya seorang diri. Namun hembusan segar hawa pegunungan kembali menentramkan hatinya. Sambil berjalan, dengan sedikit bergumam Ia berkata,
“Akan kugapai puncak gunung itu, walau seorang diri dan tanpa pengetahuan akan jalur perjalanan, akan kujejakkan kakiku dipuncakMu. Bukan karena Aku terpaksa ataupun harus menggapaiMu, tapi karena Aku ingin dan yakin bisa menggapaiMu.”
Datupun memulai perjalanannya, dengan penuh senyum dan siul coba Ia wujudkan angannya menjadi nyata.